ACEH RAWAN GEMPA BUMI

Kategori : Pemerintah Aceh Jumat, 05 Juni 2020

Tatanan Teknonik di Aceh
Indonesia menempati zona tektonik aktif karena berada pada pertemuan tiga lempeng besar. Tiga lempeng besar tersebut adalah Lempeng Eurasia, Indo-Australia dan Pasifik yang merupakan bagian zona cincin api dunia. Pertemuan lempeng tersebut mulai dari pantai barat Sumatera sampai pantai selatan Jawa dan menerus ke barat Sulawesi, pertemuan lainnya mulai dari utara Papua sampai timur Mindanao. Keberadaan interaksi antar lempeng ini menyebabkan wilayah Indonesia sangat rawan terhadap bencana geologi termasuk gempa bumi. Batas lempeng Utama di Indonesia seperti terlihat pada Gambar 1 berikut ini.

Gambar 1. Batas Lempeng Utama di Indonesia dan Asia Tenggara


Aceh merupakan salah satu propinsi di Indonesia yang rawan bencana geologi, karena terletak pada pertemuan lempeng Eurasia dan Indo-Australia. Aceh juga dilalui oleh patahan besar sumatera ’The Great Sumatera Fault’ yang membelah Pulau Sumatera mulai dari Teluk Semangko hingga Banda Aceh. Sesar besar ini menerus sampai ke Laut Andaman hingga Burma. Patahan aktif ini diperkirakan bergeser sekitar 10 - 25 milimeter per tahun dan merupakan daerah rawan gempa bumi. Kecepatan pergerakan patahan aktif pulau Sumatera seperti terlihat pada Gambar 2 berikut ini.

Gambar 2. Kecepatan pergerakan patahan aktif pulau Sumatera


Posisi Aceh yang terletak pada batas lempeng zona subduksi merupakan sumber banyaknya gempa bumi. Kejadian gempa bumi dan tsunami tanggal 26 Desember 2004 dengan magnitude 9,2 Mw, yang terjadi dekat pantai barat Aceh yang menyebabkan terjadinya tsunami dengan angka kematian lebih dari 250.000 korban di seluruh Asia Tenggara, merupakan salah satu kejadian gempa bumi terbesar.


Dari kondisi geologi yang ada, dapat dipahami bahwa ancaman gempa bumi di Aceh dapat bersumber dari daerah subduksi (gempa laut) dan daerah sesar (gempa darat). Gempa bumi yang bersumber dari daerah subduksi (zona pertemuan lempeng) berada di sebelah barat Pulau Sumatera. Sedangkan gempa bumi yang bersumber dari daerah sesar merupakan gempa bumi yang terjadi akibat pergerakan patahan di tengah Pulau Sumatera yang dinamakan ’The Great Sumatera Fault’ (Patahan Besar Sumatera). Patahan ini di Aceh terbagi menjadi 4 segmen utama yaitu Segmen Tripa, Segmen Batee, Segmen Aceh dan Segmen Seulimum. Segmen Sesar Besar Sumatera di Aceh seperti terlihat pada Gambar 3 berikut ini.

Gambar 3. Segmen Sesar Besar Sumatera di Aceh


Sejarah Kegempaan Daerah Sesar di Aceh

  • Peristiwa gempabumi masa silam yang tercatat pada Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi pernah terjadi di Gayo Luwes pada tanggal 15 November 1990 dengan magnitude 6,8 SR. Dalam peristiwa tersebut dijelaskan terjadi tanah longsor, retakan tanah dan liquefaction. Kerusakan terjadi di Blangkejeren, Kuta Panjang, Rikit Gaib, Agusen, Gumpang dan Kutacane. Jumlah korban dalam peristiwa tersebut 1 orang tewas dan 32 orang luka-luka. Pusat gempa (episentrum) tahun 1990 berada pada 3,908⁰ LU dan 97,457⁰ BT dengan kedalaman 33 km.
  • Peristiwa gempabumi lainnya terjadi di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah pada tanggal 28 Januari 2010 dengan magnitude 5,0 SR. Pusat gempa (episentrum) berada pada koordinat 4,82⁰ Lintang Utara dan 96,78⁰ Bujur Timur. Data menyebutkan di Kecamatan Ketol Aceh Tengah tercatat 245 rumah rusak, jumlah korban patah tulang 2 orang dan satu orang luka ringan, di Kecamatan Kute Panang Aceh Tengan tercatat 172 rumah rusak. Bangunan sekolah yang rusak di Kabupaten Aceh Tengah sebanyak 16 sekolah. Di Kecamatan Wih Pesam Bener Meriah tercatat 127 rumah rusak.
  • Gempabumi lainnya yang terjadi pada Sesar Sumatera Segmen Aceh adalah gempabumi di daerah Kabupaten Aceh Singkil pada tanggal 6 September 2011. Gempabumi berkekuatan 6,7 SR, berpusat di Kabupaten Aceh Singkil, tepatnya 59 km Timutlaut Singkil pada koordinat 2,81⁰ LU dan 97,85⁰ BT dengan kedalaman 78 km. Gempabumi tersebut merusak lebih dari 1.417 rumah di Kota Subulussalam dengan rincian 417 rumah rusak berat dan 1000 rumah rusak ringan. Di Kabupaten Aceh Selatan tercatat 310 rumah rusak yang tersebar di sepuluh desa. Tiga kabupaten di Sumatera Utara yaitu Pakpak Barat, Humbang Hasundutan dan Dairi juga mengalami kerusakan parah. Dalam peristiwa tersebut empat orang meninggal dunia yaitu satu orang di Kota Subulussalam dan tiga orang dari Kabupaten Aceh Singkil.
  • Peristiwa gempabumi lainnya terjadi di Kabupaten Pidie pada tanggal 22 Januari 2013 dengan magnitude 6,0 SR. Pusat gempa (episentrum) berada pada koordinat 4.86 LU dan 96.02 BT dengan kedalaman 10 Km. Pusat gempa berada di darat 18 km BaratDaya-Pidie. Data menyebutkan sebanyak 128 unit rumah penduduk rusak berat dan tercatat 292 unit lainnya rusak ringan setelah gempabumi, sepuluh masjid di sejumlah desa di Kecamatan Mane dan Gempang, dua meunasah (mushala) desa, dua kantor camat juga rusak. Tercatat juga 21 unit gedung sekolah rusak dan sebanyak 16 kelas tidak bisa digunakan untuk aktivitas belajar mengajar. Sarana kesehatan masyarakat yakni Puskesmas, Pustu dan Poskesdes masing masing dua unit juga rusak. Satu unit rumah dinas medis, barak TNI Kompi E dan pos kompi rusak. Sepanjang 45 meter saluran air di Alue Kumba juga rusak. Selanjutnya satu unit gedung Pos Pemantau Gunungapi Peuet Sagoe mengalami kerusakan akibat gempa bumi. Selain itu, dampak langsung dari gempabumi 22 Januari 2013 adalah meninggalnya satu orang akibat tertimpa reruntuhan bangunan. Beberapa orang mengalami luka berat dan ringan.
  • Gempa bumi lainnya terjadi di Kabupaten Aceh Tengah pada tanggal 02 Juli 2013 dengan magnitude 6,2 Skala Richter (SR). Pusat gempa berada pada koordinat 4.698 LU dan 96.687 BT dengan kedalaman 10 kilometer. Data media massa menyebutkan sebanyak 16.019 unit rumah rusak parah, sedang dan ringan yang tersebar di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. Rumah rusak di Kabupaten Aceh Tengah sebanyak 13.862 unit yang terdiri atas 5.516 unit rusak berat, 3.061 rusak sedang dan 5.596 unit rusak ringan. Rumah rusak di Kabupaten Bener Meriah sebanyak 2.257 unit yang terdiri atas 662 unit rusak berat, 311 unit rusak sedang dan 1.184 unit rusak ringan. Gempabumi juga melumpuhkan 77 unit kerja pemerintah, 48 di antaranya rusak berat. Selain itu gempa juga merusak 195 unit sarana kesehatan (RSU, Puskesmas, Pustu, Poskesdes, Polindes, serta rumah dinas dokter dan paramedis), begitu pula dengan kerusakan 292 sarana pendidikan TK/SD/SMP/SMA sederajat (158 rusak berat dan 134 rusak sedang). Selain kerusakan bangunan, dampak langsung dari gempabumi 02 Juli 2013 adalah korban meninggal dunia sebanyak 39 orang yang tersebar di Aceh Tengah 30 orang dan Bener Meriah 9 orang. Korban luka berat mencapai 180 orang. Selain itu juga terjadi fenomena geologi lainnya yaitu terjadinya tanah longsor di Desa Serempah Kecamatan Ketol Kabupaten Aceh Tengah, mengakibatkan hampir seluruh Desa Serempah amblas.
  • Gempa bumi lain terjadi di Kabupaten Pidie. Menurut BMKG, gempa yang terjadi Tanggal 22-Oct-13 12:40:34 WIB dengan Magnitude 5.6 SR Kedalaman 10 Km berada pada koordinat 5.29 LU dan 95.42 BT. Pusat gempa berada di darat, 16 km BaratDaya KAB-ACEHBESAR. Hasil pengeplotan menunjukkan bahwa pusat gempa berada di Kecamatan Kuta Cot Glie Kaupaten Aceh Besar. Kemudian BMKG merevisi kembali titik episentrum gempabumi 22 Oktober 2013 yaitu berada pada koordinat 5.02 LU dan 95.89 BT dengan kedalaman 10 Km dan Magnitude gempabumi adalah 5.4 SR. Hasil pengeplotan menunjukkan bahwa pusat gempa berada di Kecamatan Tangse Kabupaten Pidie, berjarak 1,5 Km dari Desa Neubok Badeuk Kecamatan Tangse Kabupaten Pidie.
  • Gempa bumi lainnya terjadi pada hari Rabu pagi tanggal 07 Desember 2016 pukul 05:03:36 WIB telah terjadi gempabumi dengan magnitude 6,4 Skala Richter (SR) di Kabupaten Pidie, Kabupaten Pidie Jaya dan Kabupaten Bireuen. BMKG menginformasikan gempabumi berkekuatan 6,4 SR tersebut berlokasi pada koordinat 5.19 LU dan 96.36 BT dengan kedalaman 10 kilometer, berada 18 km Timurlaut Kabupaten Pidie Jaya.
  • Kemudian gempa bumi merusak lainnya terjadi di Banda Aceh dan Sabang tanggal 4 Juni 2020. Posisi semua gempabumi tersebut merupakan gempabumi dengan lokasi episentrum di darat. Semua episentrum gempabumi tersebut berada pada sekitar garis Sesar Sumatera, baik pada sesar utama maupun pada sesar orde berikutnya.

Plotting gempa bumi di Aceh dalam 5 tahun terakhir (2015 – 2020) baik yang berasal dari zona subduksi maupun dari zona sesar seperti terlihat pada Gambar 4 berikut ini.


Gambar 4. Gempa bumi di Aceh dalam 5 tahun terakhir (2015 – 2020)

Tingkatkan upaya mitigasi terhadap gempabumi

Berdasarkan peta seismisitas gempabumi darat dan sejarah gempa merusak di Aceh baik yang bersumber dari subduksi maupun sesar, tentu hal ini perlu menjadi perhatian semua bahwa sesungguhnya ancaman gempabumi di Aceh itu besar, sehingga Aceh merupakan daerah rawan gempabumi. Apalagi sesar Sumatra khususnya pada segmen Aceh harus menjadi perhatian kita semua, baik pemerintah pusat/daerah, para pemangku kebencanaan dan masyarakat, mengingat segmen Aceh ini dalam kurun waktu beberapa yang sangat lama tidak menunjukkan aktifitas kegempaannya. Beberapa hasil penelitian pada segmen Aceh menyimpulkan bahwa segmen aceh ini tidak mengunci sehingga tidak terjadi gempabumi. Kejadian gempabumi tanggal 5 Juni 2020 yang bersumber dari segmen Aceh ini perlu menjadi perhatian sangat serius. Ini dapat menjadi ancaman nyata bagi kota Banda Aceh. Ternyata sesar ini aktif dan mengunci.


Saat ini segala upaya kesiapsiagaan dalam menghadapi ancaman gempabumi di Aceh perlu dilakukan oleh semua pihak baik dari Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Provinsi dan Kab/Kota di Aceh. Sosialisasi dan edukasi terkait gempabumi merupakan salah satu upaya untuk mengurangi dampak bencana.

 

Sosial

Sholat

Kota: Banda Aceh
Lat: 5.53
Lng: 95.32